Showing posts with label asbabunnuzul. Show all posts
Showing posts with label asbabunnuzul. Show all posts

Monday, June 23, 2014

Asbabunnuzu QS Maryam[19] ayat 64

Asbabunnuzul Qur'an Surat Maryam ayat 64
Telah bercerita kepada kami Abu Nu'aim telah bercerita kepada kami 'Umar bin Dzarr berkata. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepadaku Yahya bin Ja'far telah bercerita kepada kami Waki' dari 'Umar bin Dzarr dari bapaknya dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Jibril 'alaihissalam: "Tidakkah sebaiknyakah kamu lebih sering mengunjungi kami dari yang sudah kamu lakukan?". Perawi berkata; "Maka turunlah firman Allah Ta'laa QS Maryam ayat 64 yang artinya; ("Dan tidaklah kami (Jibril) turun melainkan dengan perintah Rabbmu. Kepunyaan-Nyalah segala apa yang ada di adapan kita dan apa yang di belakang kita").

Keterangan Hadits:
Hadits di atas diambil kitab Shahih Bukhari dengan nomor 2979. Selain dari kitab Shahih Bukhari, hadits dengan sanad dan matan yang sama juga ada dalam kitab Fathul Bari nomor 3218. Menurut ijma ulama, hadits di atas termasuk dalam kategori hadits Shahih. Sehingga bisa dijadikan referensi yang baik untuk mengkaji makna sebuah ayat, maupun untuk digunakan dalam rangka mencari solusi atas sebuah permasalahan. Dilihat dari sisi matannya, hadits di atas termasuk hadits yang berhubungan dengan ayat-ayat al Qur’an. Dalam hal ini, hadits Shahih Bukhari nomor 2979 merupakan asbabunnuzul dari QS Maryam ayat 64.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS al Mudatstsir[74] ayat 1-5

Asbabunnuzul Qur'an Surat al Mudatstsir ayat 1-5
Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata aku mendengar Abu Salamah berkata telah mengabarkan kepadaku Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anhuma bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kemudian wahyu berhenti turun kepadaku pada masa tertentu hingga ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit. Maka aku mengarahkan pandanganku menghadap langit yang ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira sedang duduk di atas Kursiy antara langit dan bumi. Aku menjadi sangat takut karenanya hingga aku ingin lepas dari bumi. Lalu aku mendatangi keluargaku sambil mengatakan; "Selimuti aku, selimuti aku". Maka kemudian Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya (QS al-Mudatstsir ayat 1 - 5) yang artinya ("Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan) hingga frman-Nya ("Dan perbuatan dosa jauhilah"). Abu Salanah berkata; "ar-Rujza artinya berhala-berhala".

Keterangan Hadits:
Hadits di atas diambil kitab Shahih Bukhari dengan nomor 2999. Selain dari kitab Shahih Bukhari, hadits dengan sanad dan matan yang sama juga ada dalam kitab Fathul Bari nomor 3238. Menurut ijma ulama, hadits di atas termasuk dalam kategori hadits Shahih. Sehingga bisa dijadikan referensi yang baik untuk mengkaji makna sebuah ayat, maupun untuk digunakan dalam rangka mencari solusi atas sebuah permasalahan. Dilihat dari sisi matannya, hadits di atas termasuk hadits yang berhubungan dengan ayat-ayat al Qur’an. Dalam hal ini, hadits Shahih Bukhari nomor 2999 merupakan asbabunnuzul dari QS al Mudatstsir ayat 1-5.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS an Nisaa’[4]:97

Asbabunnuzul Qur'an Surat an Nisa ayat 97
Telah bercerita kepada kami Abu Al Walid telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq berkata aku mendengar Al Bara' radliallahu 'anhu berkata; Ketika turun ayat 97 Surah an-Nisaa' yang artinya ("Tidaklah sama orang-orang yang duduk-duduk saja (tidak ikut berperang) dari kalangan Kaum Mu'minin…"), Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil Zaid, maka dia datang dengan membawa papan tulis lalu dia menulis ayat itu. Kemudian Ummu Maktum datang mengadukan alasannya, maka turunlah ayat ini ("Tidaklah sama orang-orang yang duduk-duduk saja (tidak ikut berperang) dari kalangan Kaum Mu'minin tanpa memiliki alasan…"),

Keterangan Hadits:
Hadits di atas diambil dari kitab Sahih Bukhari nomor 2619. Selain dalam kitab Shahih Bukhari, hadits dengan sanad dan matan yang sama juga terdapat dalam kitab Fathul Bari nomor 2831. Menurut ijma’ ulama, hadits Bukhari nomor 2619 termasuk dalam kategori hadits shahih. sehingga bisa digunakan sebagai referensi dalam upaya mendalami makna sebuah ayat atau untuk mencari solusi atas sebuah permasalahan. Matan hadits berisi mengenai asbabunnuzul QS an Nisaa’ ayat 97.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS al Ma’idah[5]:106

Asbabunnuzul Qur'an Surat al Ma'idah ayat 106
Dan berkata krpadaku 'Ali bin 'Abdullah telah bercerita kepada kami Yahya bin Adam telah bercerita kepada kami Ibnu Abi Za'idah dari Muhammad bin Abi Al Qosim dari 'Abdul Malik bin Sa'id bin Jubair dari bapaknya dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata; Ada seorang dari Bani Sahmi pergi keluar bersama Tamim ad-Dariy dan 'Addi bin Badda'. Kemudian lelaki suku Bani Sahmi itu meninggal dunia di daerah yang penduduknya tidak ada seorang Muslim pun. Ketika keduanya tiba kembali dengan membawa harta peninggalannya, keluarganya merasa kehilangan bejana perak yang bergaris emas, lalu Rasulullah Shallallhu 'Alaihi Wasallam menyumpah keduanya. Pada kemudian hari bejana itu ditemukan di Makkah. Mereka berkata: "Kami telah membelinya dari Tamim dan Adi". Lalu berdirilah dua orang dari wali Bani Sahmi dan bersumpah: "Persaksian kami lebih benar dari pada persaksian mereka berdua, dan bejana itu adalah milik sahabat mereka". Ia (Ibnu 'Abbas) berkata: "Dan tentang mereka itulah ayat QS Al Ma'idah 106 turun, yang artinya: ("Wahai orang-orang beriman bersaksilah kalian ketika salah seorang dari kalian meninggal").

Keterangan Hadits:
Hadits di atas diambil dari kitab Shahih Bukhari nomor 2572. Selain dalam kitab Hadits Shahih Bukhari, hadits dengan sanad dan matan yang sama juga terdapat dalam kitab Fathul Bari. Menurut ijma’ ulama, hadits ini termasuk dalam kategori hadits shahih. Sehingga bisa digunakan sebagai referensi, baik untuk mengkaji sebuah ayat maupun dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang ada. Matan hadits berisi mengenai asbabunnuzul dari QS al Ma’idah ayat 106.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS al Baqarah[2] : 187

Asbabunnuzul Qur'an Surat an Nisaa' ayat 126
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hazim dari bapaknya dari Sahal bin Sa'ad. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada saya Sa'id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Abu Ghossan Muhammad bin Muthorrib berkata, telah menceritakan kepada saya Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad berkata: Ketika turun ayat ("Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam") dan belum diturunkan ayat lanjutannya yaitu ("dari fajar"), ada diantara orang-orang apabila hendak shaum seseorang yang mengikat seutas benang putih dan benang hitam pada kakinya yang dia senantiasa meneruskan makannya hingga jelas terlihat perbedaan benang-benang itu. Maka Allah Ta'ala kemudian menurunkan ayat lanjutannya ("dari fajar"). Dari situ mereka mengetahui bahwa yang dimaksud (dengan benang hitam dan putih) adalah malam dan siang".

Keterangan Hadits:
Hadits di atas diambil dari kitab Shahih Bukhari nomor 2557. Selain dalam kitab Shahih Bukhari, hadits dengan sanan dan matan yang sama juga terdapat dalam kitab Fathul Bari, dengan nomor 2763. Menurut ijma ulama, hadits ini termasuk dalam kategori hadits shahih, baik dari sisi matan, terutama dari sisi sanadnya. Dilihat dari sisi matannya, hadits ini merupakan hadits yang memiliki keterkaitan dengan QS al Baqarah ayat 187. Yaitu sebagai asbabunnuzul dari ayat tersebut.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS an Nisaa'[4]:97

Asbabunnuzul Quran Surat an Nisaa' ayat 97
Telah bercerita kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Sa'ad Az Zuhriy berkata telah bercerita kepadaku Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab dari Sahal bin Sa'ad As-Sa'idiy bahwa dia berkata: "Aku melihat Marwan bin Al Hakam sedang duduk di masjid lalu aku menemuinya hingga aku duduk di sampingnya lalu dia mengabarkan kepada kami bahwa Zaid bin Tsabit mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacakan ayat 97 Surah an-Nisaa' kepadanya yang artinya ("Tidaklah sama orang-orang yang duduk-duduk saja (tidak ikut berperang) dari kalangan Kaum Mu'minin dengan orang-orang yang berjihad fii sabilillah…"), maka datang Ibnu Ummu Maktum kepada Beliau padahal Beliau sedang membacakan ayat itu kepadaku dengan berkata: "Wahai Rasulullah, seandainya aku mampu berjihad pasti aku akan berjihad". Dia adalah seorang yang buta. Maka Allah Tabaaraka Wa Ta'ala menurunkan ayat kepada Rosul-Nya pada saat paha Beliau sedang berada diatas pahaku dan aku merasa berat dengan paha Beliau tersebut (karena beratnya wahyu yang Beliau terima) hingga aku khawatir pahaku retak. Kemudian Beliau tenang kembali. Maka Allah 'AZZA WAJALLA menurunkan firman-Nya (kelanjutan ayat tersebut) yang artinya: ("Yang tanpa memiliki alasan…").

Keterangan Hadits:
Hadits di atas diambil dari kitab Shahih Bukhari nomor 2548. Selain dalam kitab Shahih Bukhari, hadits dengan sanad dan matan yang sama juga terdapat dalam kitab Fathul Bari nomor 2753. Menurut ijma ulama’ hadits Bukhari nomor 2548 termasuk dalam kategori hadits shahih. Sehingga bisa dijadikan sebagai referensi dalam mengkaji makna sebuah ayat, atau dalam rangka mencari solusi atas permasalahan. Matan hadits berisi mengenai penjelasan Rasulullah terhadap QS an Nisaa' ayat 97. Selain sebagai penjelasan, hadits ini juga sebagai asbabunnuzul kalimat selanjutnya dalam QS an Nisaa' ayat 97. Lebih jelasnya, sesuai dengan yang tertera pada redaksi hadits yang telah di sampaikan di atas.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS al Hujurat[49]:10

Asbabunnuzul Qur'an al Hujurat ayat 10
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Mu'tamir berkata, aku mendengar bapakku bahwa Anas radliallahu 'anhu berkata: "Dikatakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam "Sebaiknya Baginda menemui 'Abdullah bin Ubay." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menemuinya dengan menunggang keledai sedangkan Kaum Muslimin berangkat bersama Beliau dengan berjalan kaki melintasi tanah yang tandus. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menemuinya, ia berkata: "Menjauhlah dariku, demi Allah, bau keledaimu menggangguku". Maka berkatalah seseorang dari kaum Anshar diantara mereka: "Demi Allah, sungguh keledai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih baik daripada kamu". Maka seseorang dari kaumnya marah demi membela 'Abdullah bin Ubay dan ia mencelanya sehingga marahlah setiap orang dari masing-masing kelompok. Saat itu kedua kelompok saling memukul dengan pelepah kurma, tangan, dan sandal. Kemudian sampai kepada kami bahwa telah turun ayat QS. Al Hujurat: 10 yang artinya ("jika dua kelompok dari kaum muslimin berperang maka damaikanlah keduanya").

Keterangan Hadits:
Hadits di atas diambil dari kitab Shahih Bukhari nomor 2494. Selain dalam kitab Shahih Bukhari, hadits tersebut juga ditulis dalam kitab Fathul Bari dengan nomor 2691. Menurut ijma ulama, hadits ini termasuk dalam kategori hadits shahih. baik dilihat dari sisi sanadnya, maupun dari matannya. Karenanya, hadits ini bisa dijadikan sebagai referensi, baik untuk mengkaji/mendalami kandungan makna sebuah ayat, maupun dalam rangka mencari solusi atas permasalahan. Hadits Bukhari nomor 2494 termasuk dalam klasifikasi hadits yang berhubungan dengan al Qur’an. Dalam hal ini, hadits Bukhari nomor 2492 merupakan riwayat yang berisi mengenai latar belakan turunnya QS al Hujurat ayat 10. Atau yang lebih dikenal dengan istilah Asbabunnuzul.

....Baca Selengkapnya

Saturday, June 21, 2014

Asbabunnuzul QS ali ‘Imran[3]:93

asbabunnuzul quran surat ali 'imran ayat 93
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdur Rahim Abu Yahya telah mengabarkan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas radliallahu 'anhu: "Aku pernah menjamu suatu kaum dengan minuman di rumah Abu Tholhah. Saat itu khamar (arak, minuman keras) mereka adalah Al Fadhikh (arak terbuat dari buah kurma). Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan bahwa khamar telah diharamkan". Anas berkata: "Maka Abu Tholhah berkata, kepadaku: "Keluar dan tumpahkanlah". Maka aku keluar lalu aku tumpahkan. Maka khamar mengalirdi jalan-jalan kota Madinah. Kemudian sebagian kaum berkata; "Telah wafat sebagian orang sedangkan di perut mereka masih ada khamar, maka Allah subhanahu wata'ala menurunkan firmanNya (QS Ali 'Imran ayat 93 yang artinya): (Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu…)

Keterangan Hadits:
Hadits dengan sanad dan matan yang sama terdapat dalam 2 kitab hadits yaitu kitab Shahih Bukhari nomor 2284 dan kitab Fathul Bari nomor 2464. Menurut ijma’ ulama, hadits Bukhari nomor 2284 termasuk dalam kategori hadits shahih. Oleh karena itu, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah, baik untuk mengkaji makna sebuah ayat maupun dalam rangka mencari solusi atas sebuah permasalahan. Hadits Buhkari nomor 2284 termasuk hadits yang secara maknawi berhubungan dengan al Qur’an. Dalam hal ini, hadits Bukhari nomor 2284 merupakan asbabunnuzl dari QS Ali ‘Imran ayat 93.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS Maryam[19]:77

asbabunnuzul quran surat maryam ayat 77
Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir bin Hazim telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Al A'masy dari Abu Adh Dhuha dari Masruq dari Khabbab berkata: "Pada masa Jahiliyyah aku adalah seorang tukang besi dan aku punya uang dirham yang ada pada Al 'Ash bin Wa'il lalu aku menemui dia untuk menagih agar dia membayarnya. Dia berkata: "Aku tidak akan membayarnya kepadamu kecuali kamu mau mengingkari (kufur) Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ". Aku katakan: "Demi Allah, aku tidak akan kufur kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sampai Allah mematikan kamu lalu kamu dibangkitkan. Dia berkata: "Biarkanlah sampai aku mati lalu dibangkitkan dan disana aku akan mendapatkan harta dan anak lalu aku akan bayar hutang kepadamu". Maka Allah Ta'ala menurunkan QS Maryam ayat yang artinya: (" Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat kami dan ia mengatakan "pasti aku akan diberi harta dan anak" (QS. Maryam 77).

Keterangan Hadits:
Hadits dengan sanad dan matan yang sama terdapat dalam 2 kitab hadits yaitu kitab Shahih Bukhari dengan nomor 2247 dan kitab Fathul Bari nomor 2425. Menurut ijma ulama, hadits Shahih Bukhari nomor 2247 termasuk dalam hadits shahih. sehingga bisa digunakan untuk mendalami makna sebuah ayat, atau dalam rangka mencari solusi dari sebuah permasalahan. Dalam hal ini, hadits Shahih Bukhari nomor 2247 termasuk dalam hadits yang berhubungan dengan al Qur’an yaitu sebagai asbabunnuzul QS Maryam ayat 77.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS ali ‘Imran[3] ayat 77

asbabunnuzul quran surat ali 'imran ayat 77
Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Syaqiq dari 'Abdullah radliallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang bersumpah yang dengan sumpahnya itu dia durhaka dan bermaksud mengambil harta seorang Muslim, maka dia kelak akan berjumpa dengan Allah sedang Allah murka kepadanya". 'Abdullah berkata, Al Asy'ats berkata: "Demi Allah, ayat itu turun tentang aku, yang dahulu antara aku dan seorang Yahudi ada tanah yang diperebutkan lalu dia mengalahkan aku. Kemudian aku adukan hal itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata, kepadaku: "Apakah kamu punya bukti?" Aku jawab: "Tidak". Lalu Beliau berkata, kepada orang Yahudi itu: "Bersumpahlah". Dia berkata,, aku katakan: "Wahai Rasulullah, dia bersumpah sementara dia mengambil hartaku?" Maka turunlah firman Allah QS Ali 'Imran ayat 77 yang artinya ("Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…") hingga akhir ayat.

Keterangan Hadits:
Hadits dengan sanad dan matan yang sama terdapat dalam 2 kitab hadits yaitu dalam kitab Shahih Bukhari dengan nomor 2239 dan kitab Fathul Bari nomor 2416 dan nomor 2417. Menurut ijma’ ulama, hadits Shahih Bukhari nomor 2239 ini termasuk dalam kategori hadits shahih. sehingga bisa digunakan sebagai referensi, baik untuk mengkaji makna sebuah ayat. Atau dalam rangka mencari solusi atas permasalahan. Matan hadits berisi mengenai asbabunnuzul QS Ali ‘Imran ayat 77.

....Baca Selengkapnya

Friday, June 20, 2014

Asbabunnuzul QS al Jumu’ah[62]:12 versi II

asbabunnuzul quran surat al jumu'ah ayat 12
Telah menceritakan kepada saya Muhammad berkata, telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Fudhail dari Hushain dari Salim bin Abu Al Ja'di dari Jabir radliallahu 'anhu berkata: "Ketika kami sedang shalat Jum'at bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datang rambongan dagang. Maka orang-orang melirik (dan berhamburan pergi) kecuali hanya dua belas orang. Maka kemudian turunlah ayat ini (QS. Al Jumu'ah ayat 12) yang artinya.: ("Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, maka mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu ketika kamu sedang berdiri menyampaikan berkhuthbah".

Keterangan Hadits:
Hadits dengan sanad yang sama, terdapat dalam 2 kitab yaitu kitab Shahih Bukhari dengan nomor 1922 dan kitab Fathul Bari dengan nomor 2064. Menurut ijma ulama, hadits Shahih Bukhari nomor 1922 ini termasuk dalam kategori hadits yang shahih. dengan keshahihannya, hadits ini bisa dijadikan referensi yang kuat dalam menafsirkan ayat. Hadits ini termasuk dalam kategori hadits yang berkaitan dengan ayat al Qur’an. Dalam hal ini, adalah sebagai asbabunnuzul dari QS al Jumu’ah ayat 12. Sebelumnya, sudah di share juga hadits asbabunnuzul QS al Jumu’ah ayat 12 versi i, dengan sanad yang berbeda. Perbedaan sanad ini, bisa jadi merupakan ciri bahwa hadits ini adalah hadits ‘aziz, masyhur, atau mungkin hadits mutawatir. Matan hadits kurang lebih sama dengan matan hadits pada tulisan sebelumnya, yaitu tentang latar belakang turunnya QS al Jumu’ah ayat 12.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS ali Imran[3]:77 Versi I

asbabunnuzul quran surat ali 'imran ayat 77
Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Al 'Awwam dari Ibrahim bin 'Abdurrahman dari 'Abdullah bin Abi Aufa radliallahu 'anhu bahwa ada seseorang menyiapkan barang dagangan dipasar, lalu ia bersumpah atas nama Allah, sesungguhnya ia telah memberikan barang tersebut dengan apa yang tidak ada padanya kepada seseorang dari kaum muslimin, lalu turunlah ayat: ("Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya dengan Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit"). (QS Al 'Imran: 77).

Keterangan Hadits:
Hadits dengan sanad yang sama terdapat dalam 2 kitab yaitu kitab Shahih Bukhari dengan nomor 1946 dan kitab Fathul Bari dengan nomor 2088. Menurut ijma ulama, hadits Shahih Bukhari nomor 1946 termasuk dalam kategori hadits shahih. Dengan keshahihannya, hadits ini bisa dijadikan hujjah serta referensi untuk menafsirkan ayat al Qur’an. Hadits ini tergolong sebagai hadits yang berkaitan dengan al Qur’an, tepatnya sebagai Asbabunnuzul QS ali ‘Imran ayat 77. Matan hadits berisi mengenai latar belakang turunnya QS ali ‘Imran ayat 77 tentang kebohongan seorang pedangan yang diselimuti dengan janji Allah, dengan tujuan agar dagangannya laku. Padahal dia memberikan barang yang tidak sesuai dengan apa yang dia tawarkan. Dan ini menjadi latar belakan turunnya QS ali ‘Imran ayat 77 "Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya dengan Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit"

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS Maryam[19]:49

asbabunnuzul quran surat maryam ayat 49
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adiy dari Syu'bah dari Sulaiman dari Abu Adh-Dhuha dari Masruq dari Khabbab berkata: "Pada masa Jahiliyyah aku adalah seorang tukang besi dan emas dan Al 'Ash bin Wa'il pernah punya hutang kepadaku lalu aku datang menemuinya untuk menagihnya. Dia berkata: "Aku tidak akan bayar kecuali kamu mau mengingkari (kufur) Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ". Aku katakan: "Aku tidak akan kufur sampai kamu dimatikan oleh Allah Ta'ala lalu kamu dibangkitkan. Dia berkata: "Biarkanlah aku sampai aku mati lalu dibangkitkan dan aku diberikan harta dan anak lalu aku bayar hutangku kepadamu". Maka turunlah QS Maryam ayat 49 yang artinya: (" Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat kami dan ia mengatakan: "Pasti Aku akan diberi harta dan anak". Adakah ia melihat yang ghaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah?").

Keterangan Hadits:
Hadits dengan sanad yang sama terdapat dalam 2 kitab hadits yaitu kitab Shahih Bukhari dengan nomor 1949 serta kitab Fathul Bari dengan nomor 2091. Menurut ijma’ ulama, hadits ini termasuk dalam kategori hadits shahih. sehingga dengan keshahihannya, hadits ini bisa dijadikan sebagai rujukan baik itu untuk menafsirkan sebuah ayat atau sebagai sudut pandang dalam menyelesaikan sebuah masalah. Hadits shahih bukhari nomor 1949 ini termasuk hadits yang berkaitan erat dengan al Qur’an, yaitu sebagai asbabunnuzul QS Maryam ayat 49. Matan hadits berisi mengenai keengganan seorang yang kufur untuk membayar hutang, disertai dengan sikap takabur. Bahkan cenderung maksa si pemberi hutang, untuk mengingkari ke Rashulan nabi Muhammad SAW. Riwayat ini merupakan asbabunnuzul QS Maryam ayat 49.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS ali Imrah[3]:77 Versi II

asbabunnuzul quran surat ali 'imran ayat 77
Telah menceritakan kepada kami 'Abdan dari Abu Hamzah dari Al A'masy dari Syaqiq dari 'Abdullah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang bersumpah yang dengan sumpahnya itu dia bermaksud mengambil harta seorang Muslim maka dia telah berbuat kedurhakaan dan akan berjumpa dalam keadaan Allah murka kepadanya". Maka turunlah firman Allah QS Ali 'Imran ayat 77 yang artinya ("Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…"). Maka datang Al Asy'ats seraya berkata; "Apa yang Abu 'Abdurrahman katakan kepada kalian sehubungan dengan turunnya ayat ini? Aku dahulu memiliki sumur yang berada di rumah anak pamanku". Beliau berkata, kepadaku: "Siapa yang menjadi saksi atas ucapanmu ini?" Aku menjawab: "Aku tidak punya saksi". Beliau berkata: "Maka dia harus bersumpah". Aku katakan: "Wahai Rasulullah, kalau begitu dia pasti akan bersumpah". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan hadits ini lalu turunlah ayat ini sebagai pembenaran atasnya.

Keterangan Hadits:
Hadits dengan sanad yang sama terdapat dalam 2 kitab hadits yaitu kitab Shahih Bukhari dengan nomor 2185 serta dalam kitab Fathul Bari dengan nomor 2356 dan nomor 2357. Menurut ijma’ ulama, hadits Shahih Bukhari nomor 2185 ini termasuk dalam kategori hadits shahih. Sehingga bisa dijadikan sebagai referensi baik itu dalam upaya mendalami makna sebuah ayat, atau dalam rangka mencari solusi atas permasalahan. Matan hadits berisi mengenai latar belakang turunnya QS ali ‘Imran [3] ayat 77 "Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…". Sebelumnya sudah di share juga asbabunnuzul QS ali ‘Imran ayat 77 versi i ini dengan riwayat lain yang sanad dan matannya berbeda. Akan tetapi dengan substansi makna yang sama. Untuk mengingatnya kembali, silahkan lihat di http://asbabunnuzulquran.blogspot.com/2014/06/asbabunnuzul-qs-ali-imran377-versi-i.html.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS al Jumu’ah[62]:12 versi I

asbabunnuzul quran surat al jumu'ah ayat 12
Telah menceritakan kepada kami Tholq bin Ghonnam telah menceritakan kepada kami Za'idah dari Hushain dari Salim berkata, telah menceritakan kepada saya Jabir radliallahu 'anhu berkata: "Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datang rombongan dagang dari negeri Syam yang membawa makanan. Maka orang-orang melirik (dan berhamburan pergi) mendatangi rambongan tersebut, hingga tidak ada orang yang tersisa bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kecuali hanya dua belas orang. Maka turunlah ayat ini (QS. Al Jumu'ah ayat 12) yang artinya.: ("Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, maka mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu ketika kamu sedang berdiri menyampaikan berkhuthbah".

Keterangan Hadits:
Hadits terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dengan nomor 1917 serta dalam kitab Fathul Bari dengan nomor 2058. Menurut ijma ulama, hadits Shahih Bukhari nomor 1917 termasuk dalam kategori hadits shahih. dengan keshahihannya, tentu hadits ini bisa dijadikan referensi penguat dalam menafsirkan ayat. Hadits ini termasuk dalam kategori hadits yang berkaitan dengan ayat al Qur’an, dalam hal ini sebagai asbabunnuzul sebuah ayat. Matan hadits berisi mengenai latar belakang turunnya QS al Jumu’ah ayat 12. Yaitu tentang riwayat nabi yang ditinggalkan jamaahnya ketika shalat, hanya untuk melihat barang dagangan dari rombongan pedagang dari negeri syam pada saat itu. Inilah yang menjadi asbabunnuzul turunnya QS al Jumu’ah ayat 12.

....Baca Selengkapnya

Wednesday, June 18, 2014

Asbabunnuzul QS an Nisa[4]:88

"Mengapa kalian (terpecah) menjadi dua golongan (yang berbeda pendapat) dalam menyikapi orang-orang munafiqin..?" merupakan terjemah dari QS an Nisa[4]:88. Untuk siapa dan dalam kondisi apa ayat tersebut diturunkan? berikut adalah asbabunnuzulnya:
asbabunnuzul an nisaa ayat 88
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Adiy bin Tsabit dari 'Abdullah bin Yazid berkata; Aku mendengar Zaid bin Tsabit radliallahu 'anhu berkata, Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar (untuk perang) menuju Uhud, sebagian dari para sahabat ada yang mundur. Sebagian kelompok dari sahabat ada yang berkata: "Kita akan bunuh mereka", dan sebagian kelompok lain berkata; "Kita tidak akan membunuh mereka". Maka kemudian turunlah firman Allah Ta'ala QS Qn-Nisa ayat 88 yang artinya: ("Mengapa kalian (terpecah) menjadi dua golongan (yang berbeda pendapat) dalam menyikapi orang-orang munafiqin..?"). Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kota Madinah ini akan membersihkan orang-orang sebagaimana api membersihkan karatnya besi".
Hadits tersebut, menurut ijma’ ulama termasuk dalam kategori hadits shahih. hadits dengan nomor 1751 dalam shahih Bukhari dan 1884 menurut kitab Fathul Bari, tentu bisa dijadikan hujjah. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi untuk selalu memperbaiki diri, agar kita memiliki kapasitas kepemimpinan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Salah satu hikmah yang bisa dipetik adalah sikap kepemimpinan yang bisa memberikan semangat permersatu. Kepemimpinan yang baik, tidak akan bisa terwujud tanpa adanya kepercayaan dari yang dipimpin. Selain itu, seorang pemimpin juga harus bisa meyakinkan yang dipimpinnya bahwasannya seluruh persoalan bisa terselesaikan, terlebih jika dilakukan bersama-sama. Dalam hal ini, kemampuan retorika seorang pemimpin juga menjadi hal penting. Melalui pembahasaan yang baik, rasa percaya akan tumbuh dengan sendirinya, sehingga bisa menjadi energi positif dalam menyelesaikan permasalahan.

....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS al Baqarah[2]:197

“Dihalalkan bagi kalian pada malam bulan puasa bercampur dengan isttri-isteri kalian”. Sepenggal potongan ayat dari QS al Baqarah[2]:197. Ada cerita menarik dibalik turunnya QS al Baqarah[2]:197. Dari potongan ayat tersebut, ada yang mau menebak-nebak bagaimana ceritanya? Sebelum “berhalusinasi”, ada baiknya kita kaji hadits di bawah ini:
asbabunnuzul quran surat al baqarah ayat 197
Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Isra'il dari Abu Ishaq dari Al Bara' radliallahu 'anhu berkata; "Diantara para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ada seseorang apabila sedang shaum lalu tiba waktu berbuka dia pergi tidur sebelum berbuka sehingga dia tidak memakan sesuatu pada malam dan siang hari hingga petang hari. Dan pada suatu ketika Qais bin Shirmah Al Anshariy ketika sedang melaksanakan shaum lalu tiba waktu berbuka dia mendatangi isterinya seraya berkata, kepada isterinya: "Apakah kamu punya makanan?" Isterinya berkata: "Tidak, namun aku akan keluar mencari makanan buatmu". Kemudian di siang harinya dia bekerja keras hingga mengantuk lalu tertidur. Kemudian isterinya datang. Ketika isterinya melihat dia (sedang tertidur), isterinya berkata: "Rugilah kamu". Kemudian pada tengah harinya Qais jatuh pingsan. Lalu persoalan ini diadukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka turunlah firman Allah Ta'ala QS Al Baqarah ayat 197 yang artinya: ("Dihalalkan bagi kalian pada malam bulan puasa bercampur dengan isttri-isteri kalian"). Dengan turunnya ayat ini para sahabat merasa sangat senang, hingga kemudian turun sambungan ayatnya: ("Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu di waktu fajar").
Hadits tersebut dalam kitab Shahih Bukhari bernomor 1782, sedangkan dalam kitab Fathul Bari bernomor 1915. Menurut ijma’ ulama, hadits tersebut termasuk dalam golongan hadits shahih. semoga kita bisa mengambil hikmah, kemudian bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberkahi oleh Allah SWT.

....Baca Selengkapnya

Tuesday, June 17, 2014

Asbabunnuzul QS al Baqarah[2]:189

asbabunnuzul quran surat al baqarah ayat 189
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Al Bara' radliallahu 'anhu berkata: "Ayat ini turun kepada kami, yaitu Kaum Anshar jika mereka menunaikan haji lalu kembali pulang, mereka tidak memasuki rumah-rumah mereka dari pintu depannya namun mereka masuk dari belakang. Kemudian datanglah seseorang dari Kaum Anshar yang ia masuk dari pintu depan seakan-akan ia merubah kebiasaan tadi. Maka kemudian turunlah firman Allah QS Al Baqarah ayat 189 yang artinya: ("Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya").
....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS al Baqarah[2]:195

Ada sebuah adagium bahwa “yang lalu biarlah berlalu”, mungkin seperti itulah kandungan makna secara umum yang terkandung dalam Hadits shahih nomor 1648 dalam kitab Shahih Bukhari atau 1770 versi kitab Fathul Bari. Pada masa jahiliyah, Dzul Majaz dan Ukazh merupakan tempat berdagangnya orang-orang pada masa jahiliyah. Ketika Islam datang, ada sebagian masyarakat yang membenci tempat-tempat tersebut karna sejarhanya. Padahal itu merupakan sikap yang tidak perlu dilakukan, sebagaimana yang terkandung dalam QS al Baqarah [2] ayat 195. Berikut adalah riwayat lengkapnya!
asbabunnuzul quran surat al baqarah ayat 195
Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Al Haitsam telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah berkata, 'Amru bin Dinar berkata, Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma: "Dzul Majaz dan Ukazh adalah tempat berdagang orang-orang pada masa jahiliyah. Ketika Islam datang seakan-akan mereka membenci tempat itu, hingga turunlah QS AL Baqarah ayat 195 yang artinya: ("Tidak ada dosa bagi kalian jika kalian mencari karunia(rezeqi hasil perniagaan) dari Rabb kalian"), yaitu pada musim haji.
....Baca Selengkapnya

Asbabunnuzul QS al Baqarah[2]:158

Sai antara bukit Shafaa dan Marwah awalnya merupakan sebuah ritual bagi kaum Anshar dalam rangka menghormati Thagut yaitu berupa patung bernama Manat di daerah al Musyallal. Pada saat Rasulullah mencontohkan sai sebagai bagian dari rukun dalam berhaji, sebagian kaum Anshar pada saat itu ada yang merasa berdosa karena mengingatkan mereke kepada ritual yang biasa mereka kerjakan ditempat yang sama untuk menyembah thagut. Untuk mengobati kegalauan berjamaah yang terjadi saat itu, maka Allah menurunkan QS al Baqarah[2] ayat 158. Berikut adalah riwayat lengkap mengenai Asbabunnuzul QS al Baqarah[2] ayat 158:
asbabunnuzul quran surat al baqarah ayat 158
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy, berkata, 'Urwah: Aku bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha, kataku kepadanya: "Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Ta'ala (QS Al Baqarah 158) yang artinya: ("Sesungguhnya Ash-Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syi'ar-syi'ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'iy antara keduanya"), dan demi Allah tidak ada dosa bagi seseorang untuk tidak ber thawaf (sa'iy) antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah". 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Buruk sekali apa yang kamu katakan itu wahai putra saudariku. Sesungguhnya ayat ini bila tafsirannya menurut pendapatmu tadi berarti tidak berdosa bila ada orang yang tidak melaksanakan sa'iy antara keduanya. Akan tetapi ayat ini turun berkenaan dengan Kaum Anshar, yang ketika mereka belum masuk Islam, mereka berniat hajji untuk patung Manat Sang Thoghut yang mereka sembah di daerah Al Musyallal. Waktu itu, barangsiapa yang berniat hajji, dia merasa berdosa bila harus sa'iy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah (karena demi menghormatii patung mereka itu). Setelah mereka masuk Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam tentang masalah itu, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, kami merasa berdosa bila melaksanakan sa'iy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah". Maka kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat ("Sesungguhnya Ash-Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syi'ar-syi'ar Allah"). 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Sungguh Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam telah mencontohkan sa'iy antara kedua bukit tersebut dan tidak boleh seorangpun untuk meninggalkannya". Kemudian aku kabarkan hal ini kepada Abu Bakar bin 'Abdurrahman, maka katanya: "Sungguh ini suatu ilmu yang aku belum pernah mendengar sebelumnya, padahal aku sudah mendengar dari orang-orang ahli ilmu yang menyebutkan bahwa diantara manusia, selain orang-orang yang diterangkan oleh 'Aisyah radliallahu 'anha itu, ada yang dahulu melaksanakan ihram untuk Manat, mereka juga melaksanakan sa'iy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah. Ketika Allah menyebutkan thawaf di Ka'bah Baitullah tapi tidak menyebut sa'iy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah dalam Al Qur'an, mereka bertanya kepada: "Wahai Rasulullah, dahulu kami melaksanakan thawaf (sa'iy) antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah dan Allah telah menurunkan ayat tentang thawaf di Ka'bah Baitullah tanpa menyebut Ash-Shafaa, apakah berdosa bagi kami bila kami sa'iy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah?". Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat ("Sesungguhnya Ash-Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syi'ar Allah"). Abu Bakar bin 'Abdurrahman berkata: "Maka aku mendengar bahwa ayat ini turun untuk dua golongan orang yaitu golongan orang-orang yang merasa berdosa karena pernah melaksanakan sa'i antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah saat mereka masih jahiliyyah (karena pernah melaksanakan untuk patung Manat), dan golongan orang-orang yang pernah melaksanakannya namun merasa berdosa bila melaksanakannya kembali setelah masuk Islam karena Allah pada mulanya hanya menyebutkan thawaf di Ka'bah Baitullah dan tidak menyebut Ash-Shafaa hingga kemudian Dia menyebutkannya setelah memerintahkan thawaf di Ka'bah Baitullah".
Menurut ijma ulama, riwayat tersebut termasuk dalam kategori hadits shahih. Hadits tersebut terdapat dengan kitab Shahih Bukhari dan kitab Fathul Bari. Dalam kitab Shahih Bukhari, hadits tersebut bernomor 1534. Sedangkan dalam kitab Fathul Bari, hadits tersebut bernomor 1643. Semoga share ini bisa memberikan pengetahuan baru mengenai sejarah ritual dalam rangkaian ibadah Haji.
....Baca Selengkapnya